Survei GMT2016: Kisah Sehari di Buli

Setelah melakukan survei dan diskusi dengan pihak-pihak terkait di Maba, perjalanan Famtrip Survei lokasi GMT 2016 dilanjutkan ke Buli. Malam itu kami menginap di Kartika Buli resort yang merupakan satu-satunya hotel di Buli meskipun ada beberapa losmen kelas melati di desa ini.

Buli, meskipun kami menyebutnya kota kecil, tapi Buli merupakan sebuah desa di kecamatan Maba di Halmahera Timur. Semenjak reformasi dimulai, Desa Buli mungkin tak lagi tenang. Tahun 1997 menandai awal mula masuknya perusahaan tambang nikel di desa yang berhadapan dengan lautan pasifik ini. Desa ini menjadi ramai dengan pendatang yang bekerja di perusahaan-perusahaan tambang yang mulai menggerogoti lahan dan hutan di area Halmahera Timur tersebut. Kegersangan itu terasa ketika melakukan perjalanan dari Buli ke Maba dan melihat bukit yang dikikis. Kepemilikan hutan dan lahan pun beralih tak lagi menjadi milik penduduk. Setelah UU Minerba ditetapkan dan mengharuskan pengelolaan komoditi di dalam negeri, maka satu per satu perusahaan tambang pun tutup hanya menyisakan beberapa dan terjadi PHK besar-besaran. Hasil diskusi di Maba menyebutkan lebih dari 7000 pekerja akhirnya dipulangkan.

Kartika Buli Resort. Kredit: Avivah Yamani
Kartika Buli Resort. Kredit: Avivah Yamani

Salah satu yang terkena imbasnya adalah Kartika Buli Resort. Hotel yang tampaknya didirikan untuk menjadi persinggahan perjalanan bisnis dari perusahaan tambang yang ada kini menjadi sepi. Malam itu kami adalah satu-satunya tamu di hotel Kartika Buli. Dan hanya ada 3 karyawan hotel yang kami temui sepanjang kami menginap. Restoran hotel Kartika Buli terletak di seberang hotel dan agak terpisah sehingga dapat dikunjungi siapapun juga. Makanannya enak dengan harga yang sangat terjangkau.

Pagi harinya, sebelum melanjutkan survei di Buli, kami menyempatkan untuk melihat suasana hotel Kartika Buli. Hotel ini memiliki 51 kamar dan area terbuka yang sangat bisa dijadikan lokasi pengamatan gerhana matahari total 9 Maret 2016 bagi para tamu. Pengamatan bisa dilakukan di halaman bagian dalam hotel, ataupun di area parkir hotel.  Setelah foto-foto dan berpamitan dengan para petugas hotel, kami pun melanjutkan perjalanan untuk melihat lokasi lain yang bisa dijadikan kandidat pengamatan.

Kami pun mengunjungi area dermaga di Buli yang jauh lebih baik dari area dermaga di Maba. Lokasi yang luas dan tampak lebih tertata bisa menjadi pilihan utama bagi penduduk setempat dan para pelancong untuk melakukan pengamatan. Cuaca pagi itu juga sangat cerah tanpa awan. Langit yang biru dipadu kapal yang beraktivitas menyajikan suasana desa yang sibuk di pagi hari. Lokasi dermaga Buli yang terbuka dan berhadapan dengan arah timur memberi keuntungan tersendiri karena gerhana matahari terjadi di pagi hari.  Yang menjadi catatan kami di dermaga Buli ini, lampu-lampu di sepanjang dermaga dilengkapi dengan panel surya yang secara otomatis akan menyalakan lampu ketika lingkungan sekitar menjadi gelap. Dan diperkirakan jika terjadi gerhana maka lampu akan otomatis menyala sehingga mengganggu pengamatan. Hal lain yang perlu diperhatikan, sama seperti di Maba, listrik di Buli juga padam semenjak pagi hari.

Dari dermaga, kami kemudian melakukan survei di area Bandara Buli untuk mengetahui maskapai apa saja yang melayani area ini. Bandara Buli, tampak sepi saat kami datang dan untuk pertama kalinya, saya bisa masuk ke area landas pacu tanpa ada pengamanan. Sedang asyik-asyiknya memotret landas pacu, kami diteriaki petugas yang baru datang untuk segera kembali karena pesawat akan mendarat. Ternyataaaa, penerbangan baru akan masuk pukul 12 siang. Dan itu masih 2 jam lagi. Para petugas baru tiba di Bandara sekitar jam 10 pagi. Kami kemudian melakukan sosialisasi gerhana dan setelah berdiskusi sejenak dengan petugas bandara kami pun pamit. Bandara Buli yang kecil hampir tak terawat dengan beberapa bangunan kosong yang sudah rusak sedangkan alat untuk pengecekan bagasi dll tampak kurang memperoleh perhatian.

Bandara Buli melayani penerbangan Wings Air dari Ternate yang tiba jam 12:05 wit setelah menempuh perjalanan selama 20 menit dari Ternate. Jenis pesawat yang melayani area ini adalah ATR 72 yang hanya menampung penumpang sebanyak 72 orang. Bagasi yang bisa dibawa 10 kg dengan bagasi di kabin 5 kg. Catatan bagi para pengamat yang membawa instrumen untuk memperhitungkan kapasitas bagasi yang bisa dibawa. Alternatif lain adalah menyewa pesawat kargo untuk membawa instrumen ke Buli.

Setelah survei di Bandara Buli, kami pun kembali ke Sofifi dengan waktu tempuh 5 jam perjalanan. Buli dan Maba menjadi lokasi yang sangat ideal untuk pengamatan Gerhana Matahari Total. Selain berada di area garis tengah gerhana, langit yang sangat cerah dan hampir tanpa awan di pagi hari menjadi alasan utama untuk berburu gerhana di area ini. Yang jadi problematika hanyalah akses yang tidak mudah jika lewat darat, keterbatasan penginapan dan ketiadaan listrik di siang hari.

Tiba di Sofifi kami beristirahat sambil menikmati senja dan tenggelamnya Matahari di ufuk barat bersama anak-anak yang sedang bermain di sore hari dan beberapa penduduk yang memancing ikan. Malamnya, sepertinya ada event I love Monday yang kembali mengguncang di kafe samping hotel Bolote dan membuat tidur kami pun penuh dengan hentakan house music.  Yang pasti ini bukan resep mujarab untuk perjalanan melelahkan yang membutuhkan istirahat.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

astronomer. astronomy communicator by day. co-founder of langitselatan. new media practitioners. story teller and podcaster in the making. social media observer. web developer and web administrator by accident.

3 thoughts on “Survei GMT2016: Kisah Sehari di Buli

Tinggalkan Balasan