Survei GMT2016: Kemilau Jailolo di Batas Utara Gerhana

Dari Kao, tim Famtrip Survei Gerhana Matahari Total 2016 pun melanjutkan perjalanan ke Jailolo dengan jarak tempuh sekitar 3 jam. Meskipun jalan menuju Jailolo mulus, tapi di beberapa area sedang dalam perbaikan. Dan kami juga menyempatkan diri untuk berfoto di Bukit Senyum 5000 yang berhadapan langsung dengan kota Jailolo. Area ini menyajikan keindahan teluk Jailolo dari salah satu puncak bukit di gunung Manyasal.  Setelah puas berfoto dan menikmati teluk Jailolo dari bukit senyum 5000, kami meneruskan perjalanan ke Jailolo.

Teluk Jailolo dari Bukit Senyum 5000 di Gunung Manyasal. Kredit: Avivah Yamani
Teluk Jailolo dari Bukit Senyum 5000 di Gunung Manyasal. Kredit: Avivah Yamani

Jailolo, kesultanan yang kemudian berkembang dan saat ini merupakan ibukota Halmahera Barat. Perjalanan yang tidak pendek untuk bisa dikenal oleh masyarakat luas. Tapi kerja keras itu terbayar sudah. Saat ini setiap tahunnya pemerintah Halmahera Barat mengadakan Festival Teluk Jailolo, untuk memperkenalkan potensi wisata, kebudayaan maupun kuliner Jailolo yang berhasil mengajak para wisatawan domestik maupun mancanegara untuk datang di kota ini.

Sesuai jadwal, saat tiba di Jailolo tim Famtrip Survei GMT 2016 langsung menuju Kantor Bupati dan bertemu dengan Sekkab dan pejabat terkait, di antaranya, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Kesehatan, Humas Halbar dan juga dari Dinas Pariwisata. Kedatangan kami mendapat sambutan hangat dari Sekkab Halbar Bapak Abjan Sofyan yang sangat antusias untuk mengetahui peristiwa seperti apa Gerhana Matahari tersebut.

Dari sisi kesiapan, Jailolo termasuk yang cukup paham apa yang harus dilakukan dan disiapkan untuk menyambut kedatangan para pemburu gerhana di daerahnya. Setelah memperoleh penjelasan, berbagai ide untuk melakukan kegiatan di Jailolo pun terlontar sebagai bagian dari rangkaian Festival Jailolo tahun 2016.  Tak hanya itu, kami juga diberi kesempatan untuk dapat bekerja sama dengan Dinas Pendidikan maupun Dinas Kesehatan untuk melakukan edukasi tentang gerhana Matahari dan cara pengamatan yang benar.

Untuk urusan akomodasi, Jailolo memang tidak memiliki Hotel berbintang, namun terdapat homestay yang sudah memenuhi standar sebagai pilihan. Setelah pertemuan, kami diajak mencicipi makanan daerah di salah satu homestay. Selama makan siang bersama Bapak Abjan Sofyan inilah kami memperoleh cerita kalau bagi masyarakat di Halmahera, peristiwa menghilangnya Matahari kala Gerhana memiliki interpretasi kalau Matahari dimakan oleh suanggi (setan) dan agar Matahari terbebas, masyarakat harus memukul tifa membuat keributan. Cerita yang serupa dengan cerita Batara Kala di Jawa.

Usai makan siang, kami pun diajak melihat pembangunan Patung Saloi yang menjadi simbol kabupaten ini. Patung Saloi ini merupakan patung seorang wanita yang menggendong saloi atau bakul berisi berbagai hasil kebun yang digunakan untuk menghidupi anak-anaknya hingga sukses. Patung Saloi ini melambangkan kegigihan seorang Ibu dalam membesarkan anak-anaknya dengan hasil tanamnya. Kehadiran patung saloi ini memberi arti bahwa dengan kerja keras, keuletan dan hasil alam yang ada kemajuan dan keberhasilan bisa diraih bersama.

Patung Saloi ditempatkan di Taman Festival Jailolo yang sedang dibangun untuk menyambut Festival Jailolo tahun 2015. Taman Festival Jailolo merupakan area terbuka yang direkomendasikan untuk lokasi pengamatan Gerhana Matahari Total di Jailolo. Lokasi ini jelas menarik karena merupakan Taman yang dibangun lengkap dengan fasilitas umum dan dapat diakses dengan mudah oleh penduduk kota. Di taman Festival Jailolo, masyarakat bisa menikmati matahari terbenam. Sedangkan untuk gerhana Matahari di pagi hari akan berhadapan langsung dengan patung Saloi. Meskipun ada gunung dan bangunan tapi area ini masih cukup ideal untuk pengamatan. Pengamat di area Taman Festival Jailolo akan dapat menikmati totalitas selama 1 menit 2,6 detik.

Selain area Taman Festival Jailolo, lokasi lainnya yang kami survei adalah Lapangan dimana terdapat Sasadu Lamo.

Sasadu Lamo merupakan rumah adat yang jadi rumah pertemuan, seperti halnya pendapa. Lapangan Sasadu Lamo ini jadi lokasi menarik lainnya karena berada hanya 1 km dari batas utara gerhana. Lokasi yang akan jadi incaran pemburu gerhana yang ingin mendapatkan manik-manik Bailey.  Di Sasadu Lamo para pengamat hanya akan dapat menikmati Totalitas selama kurang dari 30 detik. Fasilitas umum di area ini cukup lengkap. Ada toilet umum, kios makanan, dan juga rumah sakit.

Setelah melakukan survei di kedua lokasi tersebut, kami pun bertolak ke Ternate dengan speedboat selama sekitar 40 menit – 1 jam. Hari itu kami seperti artis yang bahkan untuk ke Ternate pun diantar oleh Sekkab Halbar Bapak Abjan Sofyan. Kunjungan kami di Halbar juga disebarkan Humas Halbar dan diterbitkan di harian Malut Post dan Harian Gamalama.

Saat bertolak ke Ternate, itu saatnya kami untuk berpisah dengan Pak Supir yang menemani kami selama di Halmahera. Satu hal yang pasti, di mobil kami, rasanya kisah tragis kursi pelaminan biru di malam pengantin yang diremix dari lagu milik Mansyur S dan kisah tragis dua anak yang kebingungan tak tahu kemana karena ayah ibunya cerai dan kawin lagi, tak akan kami lupakan.  Itulah dua lagu dangdut remix dan lagu khas daerah yang menemani kami selama perjalanan di Halmahera.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

astronomer. astronomy communicator by day. co-founder of langitselatan. new media practitioners. story teller and podcaster in the making. social media observer. web developer and web administrator by accident.

6 thoughts on “Survei GMT2016: Kemilau Jailolo di Batas Utara Gerhana

  1. Sukses terus buat “Langit Selatan” atas pencerahannya meski dilangit sedang gerhana…

    Salam dari Jailolo

  2. tulisan ibu Avivah bagus sekali… tks sdh berbagi pengetahuan & pengalaman. saya dari Majalah Sains Indonesia (Bogor). Boleh minta kontak ibu?
    tks, sukses ya bu…

Tinggalkan Balasan